Doa Bapa Kami (7)
Berikutnya, dengan mengaku dosa, kita menjadi orang yang rendah hati. Kita rendah hati sekurangnya ada 4 sebab:
Yang pertama, kita diciptakan, sehingga kita adalah terbatas. Seberapa pun yang mau kita capai, kita tidak mungkin menjadi Pencipta. Kita sebagai yang diciptakan. Ada orang yang betul-betul naif dan bodoh, ketika berhasil mengerjakan banyak hal mereka merasa diri seperti Tuhan. Mereka tidak menyadari bahwa mereka diciptakan, bersama itu tidak menyadari keterbatasan diri mereka sebagai ciptaan.
Yang kedua, kita semua sudah jatuh di dalam dosa. Kita sebagai orang yang berdosa seharusnya rendah hati. Seorang pengkhotbah bahkan pernah mengatakan orang yang hidupnya nyaris sempurna dalam kerohanian pun bisa jatuh dalam godaan dosa yaitu dosa kesombongan rohani. Tentu ini bukanlah ajakan untuk sembarangan berdosa (supaya lebih rendah hati). Orang yang kurang memiliki pengalaman kegagalan cenderung menjadi orang yang congkak. Kesombongan rohani karena dia merasa tidak ada lagi kelemahan. Kita harus membenci dosa, meninggalkan segala kejahatan, dan ini adalah ajaran Firman Tuhan. Tetapi ketika kegagalan terjadi, paling tidak ingatlah bahwa hal itu diijinkan Tuhan supaya kita rendah hati. Waktu kita menyadari kita ada kelemahan, kekurangan, kegagalan, ini menyatakan untuk kita belajar terus rendah hati karena kita tidak sempurna. Sejarah Gereja mencatat orang-orang yang rendah hati seperti Musa, Paulus, Agustinus dsb. Mereka mengenal dengan jelas kelemahan dan kekurangan mereka. Bahkan sadar mereka adalah orang yang sangat berdosa (Musa terus-menerus meminta kasih karunia Tuhan, Paulus menyatakan dirinya sebagai orang paling berdosa di antara semuanya, Augustinus mengungkapkan kerusakannya dalam buku „Confession“). Mereka menilai diri mereka begitu rendah. Mereka bukan mengumumkan kelemahan mereka di hadapan banyak orang supaya kelihatan rendah hati. Mereka jujur dan tulus, mereka memang menilai diri sangat rendah, karena mereka mengenal dengan benar standard kekudusan Tuhan.
Yang ketiga, Semua adalah anugerah Tuhan (sola gratia). Kita percaya bahwa semuanya berasal dari Tuhan, maka kita harus rendah hati. Kita sudah jatuh dan kita kehilangan pemberian yang terpenting dalam kehidupan ini. Satu-satunya yang kita miliki berasal dari kita sendiri adalah dosa. Yang lain semuanya adalah dari Tuhan.
Yang keempat, Tuhan mempercayakan dalam diri kita suatu porsi tertentu. Porsi yang menjadi bagian saya. Ini semua berkait erat dengan janji Tuhan. Tuhan memberikan apa yang dijanjikan. Kita mendoakan apa yang Tuhan janjikan. Kita memperoleh apa yang Tuhan janjikan. Rendah hati yaitu mengerjakan bagian yang Tuhan percayakan di dalam diri saya. Orang yang melarikan diri, menyuruh orang lain mengerjakan, bukanlah orang yang rendah hati. Sebaliknya orang yang tidak mau mengerjakan bagiannya melainkan mau bagian orang lain, bukanlah orang yang rendah hati karena dia keluar dari apa yang Tuhan percayakan dalam dirinya. Orang yang mengenal yang Tuhan percayakan dalam dirinya, akan menikmati keindahan keaneka-ragaman anggota tubuh Kristus yang saling melengkapi satu sama lain.
Ketika kita mengaku dosa, kita menjadi orang yang lebih rendah hati. Ketika kita mengaku keberdosaan kita dan Tuhan membalut kita dengan cinta kasihNya, maka kita bisa mengasihi sesama. Kita mengasihi sesama dengan kekuatan dari kita mengaku dosa dan diampuni oleh Tuhan. Kita kurang bisa mengasihi dan mengampuni orang lain menyatakan betapa kurangnya pemahaman kita akan besarnya dosa kita. Persoalan horizontal yang kacau selalu merupakan persoalan vertikal yang tidak beres. Segala sesuatu harus kita lihat secara teosentris. Orang yang selalu bereaksi secara horizontal, dia tidak maju-maju karena dia tidak melihat hubungannya dengan Tuhan. Baik penderitaan, penyakit, persoalan dalam pekerjaan, jika hanya dilihat secara horizontal, akan membuat manusia hanya berputar-putar tanpa ada progresi.
Demikian juga kekurangan kita mencintai sesama menyatakan bahwa kita kurang mengaku dosa di hadapan Tuhan. Kita cenderung lebih peka kesalahan orang lain daripada kesalahan sendiri. Seperti Kejadian 3, karena Adam tidak peka akan kesalahan sendiri, maka dia melempar kepada Hawa. Hawa sendiri lempar kepada yang lain lagi. Orang yang dewasa rohani lebih peka terhadap kesalahannya sendiri dan kurang peka (bukan tidak tahu) akan kesalahan orang lain. Kurang peka kesalahan orang lain maksudnya dia bisa mengampuni kesalahan orang lain.
Ayat 13 adalah tentang pencobaan, supaya kita dibebaskan dari pencobaan. Pencobaan dalam kehendak Tuhan bermakna agar kita sadar akan kerentanan diri kita. Lain dari pengakuan, yang berhubungan dengan keberdosaan kita, dalam pencobaan tidak tentu jatuh dalam dosa. Waktu dia masuk dalam pencobaan, kita masuk dalam titik kerentanan kita. Di situ, kita mengenal diri lebih baik (mirip dengan pengakuan dosa yang membawa juga pada pengenalan diri, namun pada pengakuan dosa adalah pengenalan diri setelah gagal, pada pencobaan mengenal diri dengan mengetahui titik rentan kita). Orang yang tidak ada pencobaan di dalam hidupnya, harus menguji diri karena jangan-jangan dia tidak mengerjakan apa-apa dalam Kerajaan Allah sampai-sampai setan pun tidak tertarik mencobai dia!
Ayat ini mengatakan supaya kita dibebaskan dari pencobaan. Kita tidak mau untuk sengaja masuk ke dalam pencobaan seperti menantang setan. Justru oleh karena kita ini rapuh, kita lebih bergantung kepada Tuhan dan berdoa supaya kita jangan dibawa ke dalam pencobaan dan dibebaskan dari yang jahat. Maksud dari doa ini adalah menilai diri dengan tepat dengan mengenal kerentanan diri sendiri. Kerentanan kita mungkin bisa dipengaruhi oleh sistem pendidikan yang membentuk kita. Misalnya ada orang dari kecil selalu dituntut. Maka dia bisa berpikir filsafat hidup manusia adalah membuat prestasi yang mengagumkan, “saya adalah apa yang saya kerjakan”. Sadar atau tidak filsafat hidupnya demikian. Bagi yang lain mungkin sejak kecil sudah dididik bahwa segala sesuatu di dunia ini harus kita nilai berdasarkan uang. Maka ia akan menilai dignitas hidupnya juga berdasarkan konsep nilai ini. Dia akan confidence jika memiliki banyak uang dan minder jika kurang. Bagi yang lain mungkin lebih meletakkan kebanggan hidup dalam pengetahuan atau gelar yang dimiliki. Orang demikian cenderung menghina mereka yang kurang berpendidikan, dan berbangga diri atas prestasi akademis yang dicapai. Orang-orang seperti itu tidak sadar bahwa justru filsafat hidup yang keliru itu justru merupakan titik kerentanan mereka yang menjadi sasaran pencobaan dari iblis. Alkitab mengatakan kebenaran itu memerdekakan, termasuk memerdekakan kita dari tuntutan dan harapan dari filsafat hidup yang salah, memerdekakan kita dari pembentukan masa lampau yang salah. Semua ini mungkin waktu kita taat kepada Firman Tuhan. Kita tidak boleh merasionalisasikan kerentanan kita. Kita tidak akan maju bertumbuh. Kita harus mengahadapinya sebagai suatu realita di dalam kehidupan kita. Kita harus jujur terhadap diri sendiri dan kepada Tuhan. Dengan begitu kita ada kemungkinan untuk diubah. Tetapi kalau kita terus mengelak tidak mau diubah, apalagi kalau kita mengkompensasi kelemahan dengan hal-hal yang menjadi kekuatan/kelebihan kita maka kita sulit diubah oleh Tuhan. Tuhan menghendaki pembentukan sampai kita disempurnakan seluruhnya.
Kerapuhan diri dalam konteks pelayanan bisa menjadi hal yang baik, sesuatu yang membuat kita lebih bergantung dan supaya kita tidak meninggikan diri. Jangankan kita, Paulus saja diberikan duri dalam dirinya. Kita tidak tahu apa persisnya duri itu, banyak orang berusaha menafsirkannya dengan berbagai macam pengertian. Alkitab hanya mengatakan bahwa itu adalah utusan iblis yang datang menggocoh dia. Itulah kerapuhan Paulus dan itu diberikan supaya dia tidak meninggikan diri. Hal ini berarti Paulus pun ada kemungkinan untuk meninggikan diri, maka Tuhan memberikan duri. Apalagi kita yang rohani masih jauh daripada Paulus, pasti lebih ada kemungkinan untuk meninggikan diri daripada dia. Rendah hati adalah awal dari segala keberhasilan di dalam Tuhan. Tuhan memberkati orang-orang yang rendah hati dan merendahkan orang-orang yang congkak. Waktu kita tidak bisa menempatkan diri dengan benar di hadapan Tuhan, kita sedang meninggikan diri dan ini adalah menyerupai kejatuhan iblis yang tidak mau menempatkan dirinya sebagai ciptaan dan mau melampaui posisi yang dipercayakan kepadanya.
Di dalam pencobaan, kita disadarkan bahwa musuh yang sebenarnya adalah iblis. Kompetisi yang sesungguhnya adalah antara kita sebagai pekerja Kristus dan iblis yang juga menabur, bukan kompetisi antar manusia, antar bangsa. Musuh kita adalah iblis itu sendiri. Peperangan rohani bukan melawan darah dan daging tetapi melawan penguasa-penguasa di udara. Di balik penguasa-penguasa yang jahat ada yang lain. Urusan kita bukan dengan orang-orang yang membenci dan menganiaya penganut agama lain, melainkan dengan iblis. Pencobaan mengingatkan kita bahwa musuh yang sesungguhnya adalah iblis, dengan demikian kita selalu siap untuk mengarungi kehidupan dalam konteks peperangan rohani. Kita bisa meneladaninya dari kehidupan orang-orang yang diberkati Tuhan. Mereka biasa berdoa berjam-jam, karena mereka tahu bahwa persoalannya bukan dengan persoalan manusia. Mereka tahu bahwa persoalan mereka adalah dengan iblis.
Akhirnya Doa bapa kami ditutup dengan doksologi. Bagian ini merupakan kebiasaan berdoa orang-orang Yahudi. Di dalam bagian terakhir, mereka mengakhirinya dengan suatu doksologi. Dalam surat-surat rasul Paulus, sering setelah menulis suatu bagian lalu diakhiri dengan kata “Amin”. Amin ini mengacu kepada kalimat yang sebelumnya yang merupakan doksologi. Di dalam pembacaan surat pada bagian itu, jemaat yang mendengar akan berespon terhadap kalimat doksologi ini. Amin maksudnya setuju dengan doksologi yang dikatakan dalam kalimat tersebut. Demikian juga kalimat doksologi dalam Doa Bapa kami ini. Doksologi adalah kita mengembalikan segala kemuliaan kepada Tuhan.
Di dalam bagian Doa Bapa kami, selain kita mengembalikan segala kemuliaan, kita juga mengaku kerajaanNya, kuasaNya. Jadi, ini adalah kerajaan Tuhan, bukan kerajaanku. Ini adalah kuasa Tuhan, bukan kuasaku. Ini adalah kemuliaan Tuhan, bukan kemuliaanku. Banyak pelayan-pelayan kristen yang waktu mula-mula melayani, melayani dengan hati yang takut dan gentar. Tetapi waktu mulai semakin terlibat dalam waktu yang lebih lama lambat laun menganggap bahwa pelayanan itu adalah wilayahnya sendiri yang orang lain tidak boleh masuk, dan dia tidak boleh diganggu. Inilah yang menghambat pekerjaan Tuhan terjadi dalam dirinya. Kita hanya dipakai sebagai alat dalam anugerah Tuhan, kita harus mengakui kepemilikan adalah Tuhan. George Whitefield dan John Wesley tidak mendapat wilayah dalam gereja resmi di Inggris. Martin Luther di-ekskomunikasi. Mereka diusir keluar. Namun mereka sadar bahwa ini adalah Kerajaan Tuhan, bukan kerajaan Paus atau Ratu Inggris. Walaupun mereka diusir keluar, mereka tetap mendapat bagian karena mereka melayani di dalam Kerajaan Allah yang bersifat global.
Hal yang seringkali menjadi gangguan dalam pelayanan adalah persoalan kuasa. Kalau kerajaan bisa kita kaitkan dengan wilayah, maka kuasa berkaitan dengan potensi. R.A. Torrey (murid D.L. Moody) pernah menulis bahwa banyak orang yang sangat berpotensi dalam pekerjaan Tuhan sampai suatu tahap Tuhan meninggalkan mereka dan Tuhan tidak mau memakai mereka lagi karena mereka lupa diri, puas diri dan dijangkiti perasaan memadai. Mulai saat itu mereka disingkirkan dan pekerjaan Tuhan dipercayakan kepada orang lain. Kalau kita bergantung kepada bakat, pendidikan, pengalaman kita sendiri, apa pun yang kita anggap ‚kelebihan’ diri kita, detik itu Tuhan akan ‚sulit’ menggunakan kita secara leluasa karena kita tidak mengakui kemurahan Tuhan, anugerah Tuhan. Apakah yang dilakukan Agustinus saat menghadapi kematiannya? Membuka-buka buku yang dia tulis sambil berbangga akan apa yang sudah dia kerjakan? Berbangga karena dia memiliki kemungkinan untuk dicalonkan dalam kanonisasi Bapa-bapa gereja dan orang kudus? Tidak! Yang dia lakukan adalah membaca Mazmur 51. Ini adalah Mazmur pengakuan dosa dari Daud yang sudah jatuh dalam dosa. Agustinus terus merenungkan hal ini, dia tidak mengingat-ingat ‚kebolehan’ dirinya. Dia menyerahkan semuanya itu sebagai pengakuan atas anugerah Tuhan dalam dirinya. Yang dia ingat saat kematiannya adalah mengaku bahwa dia adalah orang yang berdosa!
Yang terakhir, persoalan kemuliaan seringkali dikaitkan dengan kredit atau puji-pujian. Waktu kita sudah mengerjakan sesuatu dan diberkati Tuhan, kita harus mengembalikan segala pujian kepada Tuhan. Waktu kita mengembalikan segala pujian kepada Tuhan, kita berada dalam arah yang benar. Waktu kita membanggakan diri kita sendiri, mencuri kemuliaan Tuhan, kita sedang menghambat pekerjaan Tuhan. Tuhan akan ‚sulit’ memberkati kita dengan berkat yang lebih besar, karena itu akan mencelakakan kita. Kemuliaan Tuhan harus direfleksikan. Orang yang menerima kemuliaan Tuhan dan tidak merefleksikannya (mencuri untuk kehormatan dirinya sendiri) sedang membawa diri dalam kehangusan. Bukankah kita sering mendengar banyak orang berdoa minta agar kemuliaan Tuhan dinyatakan? Itu memang doa yang sangat baik, namun pertanyaannya apakah kita siap memberi segala kemuliaan kepada Tuhan ketika Tuhan menyatakan kemuliaanNya yang besar? Mereka yang tidak mengembalikan kemuliaan kepada Tuhan sedang merusak pekerjaan Tuhan. Kehidupan orang-orang saleh dalam sejarah Gereja menyatakan ketakutan mengambil dan merampas kemuliaan Tuhan. Secara kontras, iblis selalu mencari kemuliaan untuk dirinya sendiri. Mari kita belajar teladan saksi-saksi iman itu. Mereka yang belajar terus mengembalikan segala kemuliaan hanya bagi Allah akan semakin memancarkan kemuliaan Allah dalam hidupnya, kemuliaan Allah yang tidak akan menghanguskan dia, tapi kemuliaan Allah yang merupakan kepenuhan hidup yang sejati, di mana kehidupannya tersembunyi di dalam Kristus. Doksologi bukan hanya sebuah lagu kurang dari 1 menit yang kita nyanyikan pada ibadah hari Minggu, melainkan suatu gaya hidup, satu semangat yang mewarnai seluruh hidup kita.
Mereka yang mengerti kekudusan Allah mengetahui betapa besar dosanya, dan bersamaan dengan itu betapa besar kasih karunia Tuhan dalam hidupnya, mereka tidak bisa hidup dengan tidak memberi kemuliaan kepada Tuhan.
Solus Christus, Sola gratia, Sola fide, Soli Deo Gloria.
